Sejarah Desa Purworejo, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang
Pada masa lampau, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Purworejo hanyalah hamparan hutan lebat yang belum tersentuh kehidupan. Pepohonan besar menjulang tinggi, semak belukar menutup tanah, dan suasana masih sunyi tanpa permukiman manusia. Hingga akhirnya, para leluhur datang membuka hutan (babat alas) dengan tekad kuat untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Dengan semangat gotong royong, mereka mulai menebangi pepohonan, membuka lahan, dan perlahan membangun permukiman. Dari sinilah awal mula kehidupan di wilayah ini tumbuh, berkembang, dan kemudian dikenal dengan nama Purworejo. Nama ini berasal dari kata “purwo” yang berarti awal atau permulaan, dan “rejo” yang berarti ramai atau makmur—sebuah harapan agar tempat ini menjadi awal kehidupan yang sejahtera bagi masyarakatnya.
Sejarah Desa Purworejo tidak dapat dipisahkan dari keberadaan sebuah sumber mata air bernama “Tuk Manuk.” Mata air ini terletak di perbatasan antara Desa Purworejo, Desa Soroyudan, dan Desa Surodadi. Sejak dahulu, Tuk Manuk menjadi sumber kehidupan sekaligus menyimpan kisah yang sarat nilai sejarah dan legenda.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, di sekitar Tuk Manuk sering ditemukan batu bata kuno di dalam tanah. Hal ini memunculkan keyakinan bahwa kawasan tersebut merupakan peninggalan sebuah kerajaan di masa lampau. Keyakinan ini semakin diperkuat dengan adanya sebuah bangunan kecil menyerupai candi di dekat mata air tersebut. Oleh karena itu, wilayah ini kemudian dikenal sebagai Dusun Candi Gondang, yang hingga kini masih menjadi bagian dari Dusun Gondang.
Selain memiliki nilai historis, Tuk Manuk juga berperan penting dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini. Sebagian besar aliran airnya dimanfaatkan untuk irigasi pertanian, mengairi sawah-sawah warga dan menjadi penopang utama sektor pertanian di Desa Purworejo.
Seiring berjalannya waktu, wilayah permukiman terus berkembang dan terbagi menjadi beberapa dusun, seperti Nabin Wetan, Nabin Kulon, Gondang, Bangsari, Wonolelo, Manggis, dan wilayah lainnya. Masing-masing dusun memiliki karakteristik dan cerita tersendiri yang memperkaya identitas Desa Purworejo.
Salah satu dusun yang memiliki kisah unik adalah Dusun Bangsari. Dahulu, dusun ini dikenal dengan nama Dusun Mbangkang, yang berarti membangkang atau menentang. Nama tersebut lahir pada masa penjajahan, ketika masyarakat setempat dikenal berani melawan dan tidak mematuhi aturan yang diberlakukan oleh penjajah. Semangat perlawanan itu menjadi bagian penting dari sejarah dan jati diri masyarakatnya.
Namun seiring perkembangan zaman, nama “Mbangkang” dirasa kurang sesuai, sehingga kemudian diubah menjadi “Bangsari.” Meski namanya berubah, nilai keberanian dan semangat perjuangan tetap melekat dalam kehidupan masyarakatnya hingga kini. Di Dusun Bangsari juga terdapat sebuah mata air yang terkenal sangat jernih dan manis. Bahkan, pada masa lalu, para pemimpin desa sering mengambil air dari sumber tersebut untuk kebutuhan minum dan memasak.
Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, masyarakat Desa Purworejo sebagian besar hidup sebagai petani. Mereka menghadapi berbagai tekanan, mulai dari kerja paksa hingga kewajiban menyerahkan hasil bumi. Namun, semangat kebersamaan dan ketahanan hidup masyarakat mampu menjaga keberlangsungan desa hingga masa kemerdekaan Indonesia.
Memasuki masa setelah kemerdekaan, Desa Purworejo mulai menata sistem pemerintahan desa secara lebih terstruktur. Peran para kepala desa menjadi sangat penting dalam memimpin, membangun, dan mengembangkan potensi desa dari waktu ke waktu.
Adapun nama-nama Kepala Desa Purworejo yang tercatat dalam perjalanan sejarah adalah sebagai berikut:
Seiring perkembangan zaman, Desa Purworejo terus mengalami kemajuan di berbagai bidang. Sektor pertanian tetap menjadi kekuatan utama, didukung oleh keberadaan sumber air seperti Tuk Manuk. Di sisi lain, kelembagaan desa seperti BPD, BUMDes, koperasi, kelompok tani, dan karang taruna turut berperan dalam mendorong kemajuan ekonomi dan sosial masyarakat.
Meski terus berkembang, masyarakat Desa Purworejo tetap menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur, seperti gotong royong, musyawarah, serta tradisi keagamaan dan budaya, termasuk pelaksanaan syawalan di masing-masing dusun yang masih lestari hingga saat ini.
Sejarah panjang Desa Purworejo bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan fondasi yang menguatkan identitas dan semangat masyarakatnya. Dari hutan lebat yang sunyi, kini telah tumbuh menjadi desa yang hidup, subur, dan penuh kebersamaan—melangkah menuju masa depan yang lebih maju tanpa melupakan akar sejarahnya.


